This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, July 10, 2006

Lilin harapan

LILIN HARAPAN Alkisah ada seorang pemuda yang sedang putus asa karena segala aktivitas yang dilakukannya selalu berakhir dalam kegagalan. Semenjak lulus dia tidak bisa melanjutkan sekolah karena keluarganya tidak mampu membiayai, kemudian dia pergi ke kota bersama temannya unutk mencari pekerjaan sesampainya di kota dia ditipu oleh temannya sendiri sehingga barang dan uang bekal dari kampung raib. Ia juga pernah di fitnah mencuri sehingga di penjara 3 tahun lamanya. Dalam pikirannya yang galau sempat terlintas dalam pikirannya untuk bunuh diri tetapi keimanannya yang berhasil mencegah dia untuk melakukan perbuatan nista itu. Bukankah Allah sangat membenci orang yang putus asa terhadap rahmatnya. ya masalah di dunia sudah selesai bagaimana dengan nanti di akherat, sedangkan menurut pak ustadz dikampung bahwa orang yang bunuh diri tidak akan mencium bau surga, mencium tidak bisa apalagi masuk ke dalamnya, begitulah pikir si pemuda tadi. Maka pergilah si pemuda tadi ke orang bijak yang ada di desanya untuk meminta nasehat kepadanya. Ketika dia bertemu dengan orang bijak tersebut dia menceritakan segala macam ganjalan dihatinya dan meminta saran bagaimana menyelesaikan problema yang sedang dia hadapi. Mendengar cerita si pemuda tadi orang bijak itu hanya tersenyum dengan tatapan yang menyejukan hati dia berkata pada si pemuda itu,”Baiklah anakku kalau ingin tahu penyelesaian dari masalah engkau datanglah kepadaku nanti malam. Si pemudapun merasa heran kenapa tidak di jawab sekarang malah menunggu nanti malam. Ah mungkin beliau akan memberikan jimat atau mantera-mantera yang akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik,begitulah pikir si pemuda tadi. Setelah mengucapkan salam si pemuda tadi pergi meninggalkan orang bijak tadi. Pada malam harinya sebagaimana yang telah dijanjikan dengan orang bijak tadi maka pergilah si pemuda itu untuk kembali menemuinya. Sesampainya di rumah orang bijak tadi dia terkejut karena rumahnya gelap, jangan-jangan ga ada orang. Tapi beliau sudah janji, apa beliau sudah lupa. Ujarnya. Tetapi untuk menghilangkan rasa penasaran dia pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ternyata orang bijak tadi ada di rumah dan mempersilahkankan si pemuda tadi untuk masuk rumah. Kek kenapa rumah kakek gelap padahal listrik tidak mati?. Orang bijak tadi tidak menjawab malahan mengajak si pemuda tadi ke suatu kamar. Ketika pintu Si pemudapun erkejut ternyata banyak lilin disana yang membuat ruanagan kamar itu menjadi terang dan yang lebih anehnya lagi di setiap lilin di beri nama. Ada yang di beri nama lilin kesuksessan, ada yang di beri nama lilin cinta, lilin semanagat, lilin kebahagian, lilin kekayaan dan sebagainya. Belum hilang rasa terkejutnya si kakek itupun berjalan mendekati jendela kamar kemudian membukanya. Wush angin dari luar masuk ke dalam kamar sehingga memadamkan lilin dalam kamar itu yang tidak padam hanya satu lilin sehingga cahaya ruangan menjadi redup. Setelah Orang bijak tadi menutup jendela kembali ia bertanya kepada si pemuda, apa yang kamu lihat anakku. “Kek, cahaya diruangannya menjadi redup karena tinggal satu lilin yang menyala dan yang lainnya padam”, jawab si pemuda itu. “coba perhatikan, apa nama lilin yang masih menyala itu”, perintah orang bijak tersebut. Si pemuda itu berjalan mendekat ke arah lilin yang masih menyala tersebut dan membacanya. “Lilin yang masih menyala ini adalah lilin harapan kek”, kata si pemuda itu sambil menengok ke arah orang bijak itu. “Anakku, ketika angin kehidupan berhembus dan membuat nyala lilin padam. Maka selama lilin harapan masih menyala engkau tidak usah khawatir karena dengan lilin harapan itu engkau akan bisa menyalakan lili-lilin lainnya. Dengan Lilin harapan engkau bisa menyalakan lilin semangat, lalu menyalakan lilin keberhasilan, terus lilin cinta, terus lilin kekayaan dan lilin lainnya. Karena manusia bisa hidup kalau ada harapan, harapan inilah yang mampu manusia berani menghadapi resiko supaya harapannya terwujud. Sehingga keberanian, kesuksesan akan seanatiasa diraih. Bukankah Allah berfirman Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum itu tidak merubah dirinya sendiri. Ubahlah dirimu maka Allah akan merubahmu. Bukankah itu lilin harapan yang di berikan tuhan kepada manusia, lantas kenapa engkau sendiri ingin mematikan lilin harapan yang dianugerahkan tuhan itu?, tanya si kakek pada pemuda itu. Si pemudapun tertunduk mendengar nasehat orang bijak itu, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan senantiasa menjaga lilin harapan dalam dirinya senatiasa menyala.

Saturday, June 10, 2006

Budaya satori

Orang-orang Jepang dikenal kreatif, inovatif, inventif dan produktif. Banyak bukti dapat dikemukakan mengenai kreativitas mereka. Jauh sejak pulih dari kehancuran akibat perang dunia II jepang bangkit kembali. Dalam kurun waktu sekitar dua dasawarsa, jepang muncul seabagai raksasa ekonomi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Jerman barat (Sebelum reunifikasi). Feature tentang orang jepang menggambarkan, ada-ada saja akal mereka untuk mengisi kehidupannya secara bermakna, mulai kertas sampai robot yang dapat memainkan alat musik mengikuti program computer. Ditangan mereka banyak hal-hal yang kelihatannya sepele menjadi serba mencengangkan. Apabila melihat sejarah dimulai restorasi Meiji konfigurasi perkembangan masyarakat jepang cenderung linear dan hanya peranglah yang menyebabkan konfigurasi itu mengalami diskotunuitas. Pengalaman pahit perang dunia II merangsang Jepang untuk melihat peluang lain di luar ekspansi militer. Jepang berpaling ke ekspansi ekonomi dan perdagangan dengan meningkatkan industrinya. Ada keyakinan di kalangan bangsa jepang bahwa bekerja merupakan pengabdian yang suci. Uang dan keuntungan materi bagi mereka sangat penting, tetapi tidaklah penting dari menunaikan usaha tugas suci, yaitu bekerja. Karena itu dalam persepsi orang luar, orang jepang dinilai gila kerja (work alcoholic). Akan tetapi dalam presepsi budaya jepang memang begitu seharusnya. Orang Jepang memiliki daya tahan dan kegigihan dalam bekerja keras. Mereka cenderung tidak lekas puas atas hasil kerjanya(delay gratification). Mereka sanggup bekerja lama dan keras untuk menjadi obsesinya tanpa cepat-cepat ingin menjadi pimpinan mendapatkan gaji besar dan bersenang-senang. Sikap tidak lekas puas atas hasil kerjanya dilatih dalam lingkungan rumah, sekolah dan dunia usaha. Orang Jepang memiliki keyakinan bahwa melalui kerja keras, mereka yakin dapat mencapai apa yang disebut “satori” yaitu tingkat berpikir tertinggi pada orang Jepang. Satori terjadi apabila berpikir logis, imajinatif dan intuinitif terjadi secara serempak. Satori tidak datang begitu saja melainkan melalui kerja keras. Orang harus mencintai apa yang dikerjakannya, melakukan terus menerus melalui disiplin diri, keteguhan dan ketekunan, kerja keras, usaha, kompetensi dan kehlian yang relevan. Keyakinan ini sesuai dengan ucapan Thomas Alva Edison, bahwa prestasi lahir 99% kerja keras dan 1% karena ilham.. Jalan menuju Satori melalui pembinaan kegigihan dan kerja keras dilakukan orang-orang Jepang. Perusahaan-perusahaan di jepang melakukan latihan ketahanan bagi para pegawai barunya. Mereka diajak berjalan 25 mil yang dibagi dalam tiga tahap. Pada sembilan mil pertama mereka berjalan bersama-sama. Pada sembilan mil berikutnya mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan mereka berjalan sesuai dengan kelompoknya. Akhirnya, pada tujuh mil berikutnya mereka diharuskan berjalan sendirian Tanpa melirik kanan kiri dan tanpa bicara. Kolektivitas dan tanggung awab pribadi merupakan ciri kerja khas budaya dalam perusahaan-perusahaan Jepang. Bagi mereka hal itu sangat penting karena ketika memasuki lingkungan kerja, misalnya masuk suatu perusahaan mereka akan menjalaninya seumur hidup. Berbeda dengan di Amerika Serikat berpindah-pindah keja praktis tidak populer di Jepang. Perusahaan tempatnya bekerja ibarat miliknya sendiri. Dengan demikian, prestasi-prestasi kreatif, inovatif dan produktif manusia jepang bukan hanya karena secara genetic mereka unggul melainkan semata-mata hasil kerja keras, kegigihan, percaya diri dan sikap pantang menyerah. Sikap-sikap ini tidak datang karena mukzijat, melainkan dilatih, dibiasakan dan di budayakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, pekerjaan dan kehidupan masyarakat.